• Formulir

  • Kegiatan

  • Pengembangan Diri

  • Data Artikel Belum Tersedia
  • Kepemimpinan

  • Data Artikel Belum Tersedia

BARANGSIAPA YANG KUKASIHI, IA KUTEGUR DAN KUHAJAR

BARANGSIAPA YANG KUKASIHI, IA KUTEGUR DAN KUHAJAR
BARANGSIAPA YANG KUKASIHI, IA KUTEGUR DAN KUHAJAR

BARANGSIAPA YANG KUKASIHI, IA KUTEGUR DAN KUHAJAR

(IBRANI 12 : 1 – 6)

Oleh : Pdt. Agus Salam Harefa, S.Th

Pendahuluan

Surat Ibrani dialamatkan kepada saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi’ (3 : 1), Penulis surat Ibrani ini memang tidak mencantumkan namanya sebagaimana surat-surat lainnya, namun para ahli berpendapat bahwa Rasul Paulus-lah yang menuliskan surat Ibrani ini. Orang Ibrani adalah orang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Namun, dalam perkembangannya, orang-orang Ibrani mengalami kesulitan hidup. Mereka dianiaya, dihina dan dikucilkan oleh orang-orang Yahudi yang tidak percaya serta penjajahan Romawi juga semakin menekan hidup mereka. Keadaan ini yang membuat penulis (Paulus) memberi perhatian dengan menghibur mereka melalui firman Tuhan, bahwa segala pergumulan hidup yang sedang melanda mereka saat ini harus dihadapi dengan “IMAN”.

Tafsiran

Ayat 1 :

Penulis mengawali pengajaran ini untuk meneguhkan iman orang-orang Ibrani yang sedang mengalami penderitaan, agar tetap tabah karena sesungguhnya mereka itu bagaikan atlet yang sedang berlomba dan sangat banyak saksi yang senantiasa mengelilingi bagaikan awan. Gambaran seorang atlet, tentu tidak membebani diri dengan apapun sehingga tidak terhalangi seseorang dalam mengikuti lomba. Gambaran ini juga yang dipakai oleh penulis agar mereka menanggalkan semua beban yang merintangi dalam mengikuti perlombaan Kristen baik pikiran, pekerjaan, kebutuhan, atau apapun yang menjadi “beban”, harus ditanggalkan. Bahkan ‘dosa’ yang telah melilit pun harus ditanggalkan. Hal menanggalkan dosa tentu sangat erat hubungannya dengan ‘iman’. Karena dengan ber-iman kepada Yesus dan Roh Kudus, berarti kita menyerahkan segala bentuk dosa itu kepada Tuhan dan percaya bahwa melalui Yesus Kristus-lah dosa kita terampuni.

Ayat 2 :

Dalam mengikuti perlombaan Kristen di dunia, mata harus tertuju kepada seorang Pribadi yang telah menang yaitu YESUS KRISTUS. Kemenangan-Nya itu menjadi motivasi bagi para pengikut-Nya. Yesus telah berhasil menghalau berbagai rintangan, kehinaan bahkan salib. Yesus tidak memandang kepada kesusahan atau kesulitan selama di dunia ini. Dan puncaknya, IA BERHASIL bahkan DUDUK DI SEBELAH KANAN TAHTA ALLAH. Ini berarti bahwa setiap pengikut Yesus mengarahkan mata kepada Yesus yang telah berhasil. Sasaran peserta lomba adalah Yesus. Jangan arahkan pandangan kepada kesusahan, keletihan, dan juga kepada para penonton. Karena itu akan mengurangi tenaga kita dalam melanjutkan lomba. Tetapi arahkanlah mata kepada Yesus,   Karena IA yang memimpin dan membawa kita hingga menuju kepada kesempurnaan.

Ayat 3-4 :

Penulis sekali lagi mengingatkan para peserta lomba agar tetap mengingat Yesus dalam menyelesaikan pertandingan di dunia ini. Ketekunan-Nya dalam menanggung bantahan dari orang-orang berdosa harus menjadi teladan bagi orang percaya ketika menghadapi berbagai pergumulan di dunia ini. Orang-orang percaya juga harus tekun, jangan sampai lemah apalagi putus asa. Karena penderitaan yang dihadapi di dunia ini tidak sebanding dengan penderitaan Yesus yang harus mencucurkan darah. Dengan mengingat pengorbanan Yesus, maka setidaknya itu menjadi obat penawar bagi setiap orang percaya dalam menghadapi berbagai pencobaan di dunia ini. Setidaknya dalam ayat ini, penulis (Paulus) selalu mengarahkan orang-orang Ibrani kepada pribadi YESUS yang telah menang menghadapi segala rintangan.

Ayat 5-6 :

Penulis mengutip Amsal 3 : 11 – 12. Kutipan ini hendak menerangkan bahwa ada sebagian orang yang menganggap enteng didikan Tuhan bahkan sampai kepada sikap putus asa ketika mengalami berbagai penderitaan. Penulis hendak menyampaikan bahwa ada kalanya Tuhan mengizinkan penderitaan itu dialami oleh manusia sebagai bentuk pengajaran dan didikan untuk kebaikan hidup manusia itu sendiri, untuk memperbaiki kehidupan mereka yang telah jauh dari Tuhan, bahkan untuk menyempurnakan Kasih Allah dalam hidupnya. Karena setiap orang yang dikasihi Tuhan dan yang diakui-Nya sebagai Anak, “akan dihajar dan disesah” dengan caranya Tuhan.

  Renungan :

1. Hidup di dunia ini bagaikan seorang atlet yang sedang mengikuti perlombaan. Atlet yang baik pasti tunduk kepada aturan yang telah ditetapkan. Atlet yang benar-benar atlet adalah pribadi yang memiliki komitmen untuk mencapai garis finish.

2. Di dunia ini pasti ada berbagai kesusahan. Hadapilah bersama Yesus. Andalkanlah Yesus, maka kekuatan dari pada-Nya akan kita nikmati bahkan kemenangan serta  akan dianugerahkan bagi pribadi yang mengarahkan matanya kepada Yesus.

3. Jangan kaget ketika mengalami pergumulan hidup, apalagi putus asa dan murtad kepada Yesus. Mungkin pergumulan itu diizinkan Tuhan untuk memperbaiki hidup. Selidikilah setiap pergumulan itu, dan selidikilah hidup ini. Ingatlah, bahwa anak-anak yang dikasihi Tuhan pasti dididik dengan cara ditegur, dihajar, disesah.  Tuhan Yesus Memberkati!!

Penulis : Miliyakin zalukhu
Tanggal : 0000-00-00 | Jam 00:00:00

Artikel Lainnya

Renungan PA sektor, 08 Mei 2016

TUNJUKANLAH HATIMU KE JALAN YANG BENAR

BARANGSIAPA YANG KUKASIHI, IA KUTEGUR DAN KUHAJAR

(BERPALINGLAH KEPADA ALLAH, MAKA KAMU AKAN DISELAMATKAN)

PERTOLONGAN TUHAN TIDAK PERNAH TERLAMBAT

KUASA PEMELIHARAAN TUHAN

BUKA HATI UNTUK MENDENGAR SUARA TUHAN

Pentingnya Kesatuan Didalam Kristus