• Kegiatan

  • Pengembangan Diri

  • Data Artikel Belum Tersedia
  • Kepemimpinan

Renungan 06 Februari 2011

Renungan 06 Februari 2011
Renungan 06 Februari 2011IMAN SEORANG PERWIRA Matius 8 : 5 - 13 Seorang Perwira Romawi dalam bacaan kita adalah orang yang istimewa, bukan hanya karena dia mengasihi budaknya, tetapi juga karena dia mempunyai iman yang hebat, dimana dia menginginkan dan meminta pertolongan Yesus untuk menyembuhkan budaknya yang sedang sakit keras. Tetapi ada sedikit masalah, yaitu bahwa dia seorang kafir sedangkan Yesus adalah seorang Yahudi. Menurut undang-undang Yahudi, orang Yahudi tidak boleh masuk ke dalam rumah seorang kafir, karna dianggap haram. Tetapi Yesus berkata kepada perwira tersebut, “Aku akan datang untuk menyembuhkannya.” Ucapan tersebut bukan berarti bahwa undang-undang tersebut tidak berlaku bagi Yesus, juga bukan berarti bahwa dia menolak untuk masuk ke rumah perwira karena undang-undang, melainkan Dia hanya ingin menguji iman perwira tersebut. Ternyata iman perwira yang kafir itu sangatlah besar. Sebagai seorang perwira, dia tahu bahwa setiap perintahnya pasti dijalankan tanpa banyak tanya, tetapi dia berkata kepada Yesus, “Tuan tidak perlu datang ke rumahku, aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh,” Perwira ini mengucapkan bahasa dengan “suara iman”. Bagi Yesus, iman adalah satu-satunya syarat untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Dan perwira tersebut memperolehnya karena imannya. Yesus mengasihi semua orang. Sering ada kecenderungan pada gereja-gereja untuk mengurung kekuasaan Yesus dalam lingkungan gereja saja. Memang gereja memberitakan tentang Yesus Kristus, memberitakan keselamatan yang ditawarkanNya kepada semua umat manusia, Tetapi kuasa Yesus Kristus bebas bekerja dimana Dia mau. Tidak ada orang atau institusi yang mampu membatasi kuasa Yesus, atau mengklaim bahwa Yesus atau Roh Kudus, hanya bekerja di gereja tertentu dan tidak bekerja di gereja lainnya. Kalau orang Yahudi berpikir bahwa keselamatan tidak akan didapatkan oleh orang kafir, maka Yesus memperlihatkan yang sebaliknya. Iman adalah syaratnya. Sikap hidup perwira Romawi yang kafir tetapi beriman sama sekali berbeda dari umumnya orang Romawi. Apa yang membuat berbeda, mampu melawan arus? Tentu saja imannya. Iman membuatnya tampil beda, dan hal tersebut dilihat oleh Yesus sampai ke lubuk hatinya yang paling dalam. Iman pula yang mendorongnya untuk meminta pertolongan dari Yesus. Sebab ia meyakini bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin bagi Yesus. Yesus sebenarnya tidak merasa risih untuk datang ke rumah perwira ini, meski undang-undang Yahudi (Taurat) tidak mengijinkannya. Tetapi perwira ini tahu dan dengan rendah hati memohon supaya Yesus mengucapkan sepatah kata saja untuk menyembuhkan hambanya. Orang beriman selalu bersikap rendah hati, mengasihi sesama meski tidak sederajat dan sebangsa, dan selalu dekat dengan Tuhan Yesus. Seperti Paulus dalam Roma 1 : 14 – 17, yang meneladani Yesus yang merasa berutang tidak hanya terhadap orang Yahudi, tapi juga kepada orang Yunani., dan kepada siapa saja yang membutuhkan keselamatan. Seandainya setiap orang Kristen hidup oleh iman, yang merasa berhutang kepada orang lain, kepada orang diluar persekutuannya, menjadi garam dan terang disekelilingnya, tidak akan ada orang yang melarangnya mendirikan gereja, karena mereka membutuhkannya. Hidup oleh iman harus dipelajari setiap saat oleh setiap orang Kristen. Iman mampu membuat hal yang seolah tidak mungkin menjadi mungkin. Selamat Minggu Ephifanias! Tuhan Yesus Memberkati. Oleh: Snk Ir. Rusueli Gulõ