• Kegiatan

  • Pengembangan Diri

  • Data Artikel Belum Tersedia
  • Kepemimpinan

Renungan Khotbah, 25 Juni 2017 HIDUP UNTUK KEMULIAAN ALLAH

Renungan Khotbah, 25 Juni 2017 HIDUP UNTUK KEMULIAAN ALLAH
Renungan Khotbah, 25 Juni 2017 HIDUP UNTUK KEMULIAAN ALLAH
HIDUP UNTUK KEMULIAAN ALLAH
FA’AURI BA WAMOLAKHŌMI LOWALANGI

(Roma 6:1-11)

Pdt. Hartati Zai, S. Th.

 

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan...

   Ketika kita dipertanyakan, pernahkah anda meninggal atau pernahkah anda mati? Pasti secara spontan kita menjawab belum pernah!! Jawaban ini tidak salah karena pada kenyataannya hingga hari ini kita masih hidup. Lalu dalam Firman Tuhan yang kita renungkan hari ini, ada sebuah pemahaman baru yang disampaikan Paulus di Jemaat roma pada saat itu untuk menjawab pergumulan sebagian jemaat yang salah menanggapi dan memahami arti Kasih Karuni dari Allah, di Roma 5:20-21, “....dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia berlimpah-limpah...”  Ungkapan ini menyesatkan, ada kesan bahwa semakin banyak berbuat dosa maka semakin banyak kasih karunia. Apakah pemahaman ini benar? Tentu Tidak, Paulus dengan tegas mengatakan di ayat  yang ke-2 Sekali-kali Tidak!!

Lalu di ayat yang ke 2-4 Paulus menyadarkan setiap orang yang percaya kepada Tuhan   bahwa kita sudah mati bagi dosa (mati secara rohani bukan mati secara fisik), dan tidak boleh hidup lagi bagi dosa (ay. 2), karena kita telah dibaptis di dalam namaNya, pembaptisan melambangkan  penyucian, pembersihan diri dari dosa dan menjadi tanda bahwa kita dimeteraikan menjadi milik kepunyaan Allah.  Maka atas dasar inilah Paulus mengatakan bahwa ketika kita dipercik atau diselam dengan air melalui Baptisan maka kita juga ikut serta dalam kematianNya dan ketika kita keluar dari air maka kita juga telah menjadi bagian dalam kebangkitanNya, sebab kematian dan kebangkitan Yesus satu paket yang tidak bisa dipisahkan dan membawa dampak bagi kehidupan setiap orang yang mempercayaiNya (ay. 3-5). 

Jika demikian, maka kita pun harus benar-benar mengerti bahwa kematian Yesus Kristus di atas kayu salib sesungguhnya adalah menggantikan posisi kita (yang seharusnya disalib karena dosa-dosa kita), sehingga kita tidak boleh lagi menyerahkan tubuh kita kepada dosa (ay. 6). Kita yang telah mati (dalam kematian bersama-sama dengan kematian Kristus), telah bebas dari dosa (ay. 7), dan jika kita telah mati dengan Kristus, kita juga akan hidup denganNya, karena Kristus telah mengalahkan maut sehingga maut tidak berkuasa lagi atasNya dan atas kita yang percaya kepadaNya (ay. 8-9). 

Ingat bahwa Yesus Kristus hanya mati satu kali saja di atas kayu salib (ay. 10). Dia tidak mungkin mati berkali-kali di atas kayu salib. Karena kematianNya dan kebangkitanNya tersebut, kita yang menjadi pengikut Kristus juga dapat hidup karena Dia. Oleh karena kita telah dihidupkan bersama-sama dengan Dia, maka kita juga harus hidup bagi Dia (Yesus Kristus) dan bagi Allah (yang mengutus Yesus Kristus ke dunia). Kita telah meninggalkan kehidupan lama kita yang berada di dalam dosa, dan menggantinya dengan kehidupan baru dimana kita harus hidup bagi Allah (ay. 11).

Jemaat yang dikasihi Tuhan.....

  Firman Tuhan mengajak kita  untuk menjawab  tema kita hari ini yaitu:   “HIDUP UNTUK KEMULIAAN ALLAH”, artinya ketika kehidupan orang percaya telah mendapatkan keselamatan, pendamaian dan penebusan  dari Allah, maka Ia menuntut  kita supaya kita tidak hidup lagi untuk dosa, melainkan kita hidup untuk memuliahkan Allah, kita hidup untuk melakukan hal yang berkenan kepada Allah, kita hidup membawa dampak yang baik bagi sesama, sebab hidup kita ini berharga bagi Tuhan, Ia menebus kita dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan darah Yesus Kristus sendiri (1 Ptr 1:19), maka dari itu gunakan hidup ini  untuk memuliakan   Allah.

 

Tuhan Memberkati