• Kegiatan

  • Pengembangan Diri

  • Data Artikel Belum Tersedia
  • Kepemimpinan

Renungan Khotbah 2 Juli 2017

Renungan Khotbah 2 Juli 2017
Renungan Khotbah 2 Juli 2017

LAWAN KEPALSUAN, SAMBUT KEBENARAN

(Timba zi lö sökhi, tema’ö zatulö)

Yeremia 28:5-9

Oleh : Pdt. Ondrasi Gea, S.Th

 

Bapak/Ibu/Sdra/I yang terkasih dalam Tuhan, Syalom…!

Pada zaman sekarang banyak barang palsu, mulai dari uang palsu, perhiasan palsu, dan sebagainya. Selain itu, ada juga berita bohong/palsu yang tidak jelas kebenarannya. Lebih berbahaya lagi jika yang namanya palsu ini ditujukan kepada orang misalnya saksi palsu, nabi palsu. Tidak dapat dipungkiri inilah realita yang ada bahwa kepalsuan itu sudah merasuki manusia. Kebenaran seringkali ditutupi atau ditelan oleh kepalsuan. Bahkan tak jarang orang menjadi korban dari kepalsuan itu sendiri. Pelaku kepalsuan tidak terbatas pada oknum tertentu saja tetapi kepada siapa saja termasuk yang namanya nabi yang bernubuat atas nama Tuhan. Dalam renungan hari ini dikisahkan ada dua orang nabi yang saling menyatakan kebenaran nubuatnya masing-masing di depan para imam dan rakyat, yaitu nabi Hananya dan nabi Yeremia. Hananya menubuatkan kepada Yehuda mengenai berakhirnya kekuasaan Babel, dikembalikannya perkakas rumah Tuhan, pembangunan kembali kerajaan dan akhir dari masa pembuangan dalam jangka waktu 2 tahun. Sangat logis jika umat lebih mudah menerima nubuat sukacita atau kesejahteraan itu daripada nubuat kemalangan. Sedangkan Yeremia bernubuat bahwa masa pembuangan Yehuda ke Babel berlangsung selama 70 tahun, setelah itu mereka baru kembali. Jelas sulit membedakan mana berita yang benar. Sedangkan pada saat itu Yehuda yang menjunjung tinggi rasa hormat kepada nabi Allah, tentu tidak akan berpikir bahwa Hananya menyalahgunakan kenabiannya untuk kepentingan pribadinya. Seolah-olah nubuat Hananya menjanjikan kesejahteraan sedangkan Yeremia membawa berita buruk bagi yang mendengarnya. Tetapi Yeremia sebagai nabi yang benar-benar diutus Allah tidak tinggal diam terhadap nubuat palsu Hananya. Dengan cara yang bijak Yeremia menanggapi berita itu tanpa menyudutkan orang lain sebagai pendusta. Apalagi percakapan di antara keduanya terjadi di hadapan para imam dan umat. Di tengah situasi itu mungkin Yeremia masih menjaga nama baik mereka sama-sama sebagai nabi. Hanya saja bagi Yeremia nabi lainnya itu perlu memperhatikan 2 hal. Pertama kata-kata Hananya tidak sesuai dengan tradisi atau pengalaman kenabian yang mereka hidupi. Kedua, waktulah yang menunjukan kebenaran dari nubuat itu. Isi nubuat tentang pemulihan Yehuda bukan persoalan bagi Yeremia, malah jawabnya adalah “amin” artinya Yeremia sendiri merindukan kepulangan Yehuda dari Babel dan mengalami damai sejahtera kembali. Namun mengingat nubuat yang pernah ia sampaikan bahwa masa penghukuman Yehuda berlangsung selama 70 tahun (Yer. 25:11), maka Yeremia meragukan nubuat Hananya dengan kata-kata “moga-moga” Tuhan berbuat demikian!. Di hati Yeremia sudah jelas bahwa Hananya adalah nabi palsu yang tidak diutus Tuhan. Meskipun nabi Hananya bertindak spektakuler membuktikan nubuatnya dengan mematahkan kuk sebagai simbol berakhirnya pembuangan di Babel untuk merebut perhatian umat saat itu, namun Tuhan tidak berpihak kepada kepalsuan. Hingga di akhir kisah perdebatan kedua nabi ini, nabi Hananya mengalami hukuman Tuhan dan mati dua bulan setelah menyampaikan nubuat palsu tersebut. Tentu perenungan bagi kita adalah bagaimana membedakan antara nabi palsu dan nabi yang sungguh-sungguh dari Tuhan. Cara yang lebih tepat adalah dengan mempelajari Kitab Suci dan merenungkan Firman Tuhan segenap hati. Juga sosok seorang nabi atau hamba Tuhan ditentukan oleh ajarannya, buah atau perbuatannya dan motivasinya. Fenomena nabi dan ajaran palsu yang menyesatkan masih ada di sekitar gereja atau tubuh gereja itu sendiri sampai saat ini. Bisa saja ada yang melakukannya lewat cara-cara atau metode-metode tertentu bahkan dengan trik spektakuler yang menggugah dan memiliki daya tarik sensasi seperti tindakan spektakuler yang dilakukan Hananya dengan mematahkan kuk di depan umat saat itu. Sebagai orang percaya mari kita tetap berpegang teguh pada iman kita, bertekun mempelajari Kitab Suci sehingga kita tidak diombang-ambingkan oleh angi-angin pengajaran. Dengan demikian kita dapat membedakan mana ajaran yang benar dan salah/palsu dan tidak terjerumus dalam kepalsuan itu sendiri tetapi hidup dalam kebenaran. Sebab Allah berpihak kepada kebenaran dan dimana ada kebenaran disitu ada damai sejahtera. Amin !

 

 

Tuhan Memberkati...